mampus.wordpress.com
Yayasan Sukma didirikan Surya Paloh dari dana publik untuk korban
bencana Aceh-Nias. Bagaimana pengelolaan dananya? Popularitas Paloh
juga terdongkrak, karena momentum ini.
GELOMBANG
uang melanda Aceh setelah stasiun televisi Metro TV menayangkan dampak
tsunami yang menghantam tanah rencong itu pada 26 Desember dua tahun
silam. Selama 40 hari penuh lewat siaran “Breaking News” dan program
”Indonesia Menangis”, stasiun swasta tersebut berhasil menguras air mata
pemirsa di luar Aceh. Siaran itu pula yang menggugah pemirsa untuk
menyumbangkan harta benda maupun uang mereka. Bahkan tak sedikit pemirsa
nekat jadi sukarelawan setelah menontonnya.
Kabar duka Aceh pun segera tersiar di luar negeri. Selang beberapa
pekan, 15 negara donor sepakat menyatukan bantuan mereka dalam Dana
Multi Donor bagi Aceh dan Nias, sebesar 525 juta dolar AS. Lembaga ini
dipimpin secara kolektif oleh perwakilan Uni Eropa (yang merupakan
pendonor terbesar), Bank Dunia, dan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi
(BRR) Aceh-Nias. Bank Pembangunan Asia tak ketinggalan mengucur dana 300
juta dolar AS.
Jakarta benar-benar sibuk. Bos Metro TV, Surya Paloh, segera
menggelar rapat, membentuk tim, lalu mengatur penyaluran bantuan ke
Aceh. Gudang yang terletak di kompleks Media Group tak mampu membendung
banjir bantuan pangan dan sandang dari jutaan pemirsa.
Paloh menghubungi kolega-koleganya di maskapai penerbangan. Lion Air,
Adam Air, Airfast, dan beberapa maskapai lainnya setuju ikut urun
bantuan. Alhasil penggalangan bantuan yang bertumpuk di Kedoya, markas
besar Media Group di Jakarta, pelan-pelan mengalir ke Aceh.
Di samping menerima bantuan barang, melalui “Indonesia Menangis”
stasiun swasta ini membuka rekening di Bank Central Asia dan Bank
Mandiri. Dana yang terkumpul juga menggunung. Dalam tempo kurang dari
sepekan sudah terkumpul Rp 40 miliar!
Mutia Safitri termasuk satu dari jutaan pemirsa yang menyaksikan
“Indonesia Menangis” dan tak kuasa membendung ibanya pada Aceh. Mutia
adalah pegawai di bagian asuransi ekspor PT Asuransi Ekspor
Indonesia.Dia langsung mengkoordinasi pengumpulan dana di kantornya yang
terletak di lantai 22 gedung Menara Kadin, Jalan Rasuna Said, Jakarta
Selatan.
Hasil
kerja
spontan itu cukup lumayan. Mutia yang dibantu beberapa rekannya
berhasil mengumpulkan uang Rp 5,33 juta dari sekitar 50 karyawan. Tiga
hari setelah tsunami menyapu Aceh, 29 Desember 2004, Mutia lekas-lekas
menyalurkan dana itu ke rekening PT Citra Media Nusa Purnama di Bank BCA
atas nama karyawan PT Asuransi Ekspor Indonesia.
Mutia tak peduli jika itu rekening
perusahaan milik Surya Paloh. Padahal rawan juga memasukkan dana publik ke rekening perusahaan yang jelas bertujuan bisnis.
“Niatnya, ya ikhlas saja karena terdorong rasa kemanusiaan,” kata Mutia pada saya.
Selain Metro TV, sejumlah media elektronik dan cetak membuat program
serupa. Stasiun SCTV meluncurkan “Pundi Amal SCTV”. RCTI menayangkan
“RCTI Peduli”. Kelompok Kompas Gramedia mengetuk hati pembaca lewat
“Dompet Kemanusiaan Kompas”. Jawa Pos,
Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Republika serentak membuka jalur bantuan dari pembaca mereka.
Dalam buku Galang Dana Ala Media yang diterbitkan Public Interest
Research and Advocacy Center (PIRAC) pada 2003, terbukti bahwa media
televisi menempati urutan pertama untuk menggaet simpati pemirsa.
Alasannya sederhana, pesan lewat media lebih mampu mengeksplorasi dan
mengeksploitasi rasa kemanusiaan publik.
Penelusuran PIRAC baru-baru ini mengungkap total penggalangan dana
masyarakat lewat media elektronik dan cetak untuk korban tsunami di Aceh
dan Nias selama satu bulan pasca bencana. Jumlahnya mencapai Rp 310,891
miliar. Angka itu terus bertambah kendati tak meledak. Hingga Agustus
2005, jumlah dana bantuan yang terhimpun sekitar Rp 367,170 miliar.
Namun tak ada yang menyamai rekor program pengumpulan dana yang
dilakukan Paloh dan anak buahnya. Media Group menduduki rangking pertama
dengan angka mencapai Rp 169,185 miliar. Di peringkat kedua tak lain
Kelompok Kompas Gramedia–termasuk TV7—yang menuai Rp 50,687 miliar.
Sejak itu Paloh jadi populer.
SURYA Dharma Paloh putra Aceh. Dia lahir di
Kutaraja, Banda Aceh, 55 tahun silam. Bapaknya, Muhammad Daud Paloh,
pernah menjabat Komandan Kepolisian Resort Tapanuli Utara.
Paloh muda ikut mendirikan Persatuan Putra-Putri Angkatan Bersenjata Republik Indonesia tahun 1968 di Medan.
Umur 19 tahun dia sudah jadi kandidat legislator Partai Golongan
Karya (Golkar) tingkat lokal. Selain terjun ke politik, Paloh juga
berbisnis. Pelan-pelan kedua jalur itu membawanya ke Jakarta. Di
ibukota, dia mulai mengibarkan bendera usaha di media massa.
Pada 1986 Paloh menerbitkan suratkabar Prioritas. Tapi umur harian
ini tak panjang. Prioritas dibreidel Harmoko, yang ketika itu menjabat
menteri penerangan. Pasalnya, Prioritas menerbitkan ramalan tentang
ekonomi makro pemerintah Indonesia yang dianggap menyesatkan dan
meresahkan masyarakat.
Tapi Paloh tak patah arang. Dia menerbitkan koran lagi. Kali ini
diberi nama Media Indonesia. Bahkan, dua tahun setelah Soeharto turun,
tepatnya pada 18 November 2000, Paloh merambah dunia penyiaran. Dia
mendirikan televisi berita 24 jam pertama di Indonesia: Metro TV.
Perusahaannya, PT Media Televisi Indonesia, berhasil mengantongi izin
frekuensi yang diterbitkan Departemen Penerangan. Hampir tiga tahun
setelah itu, Metro TV punya gedung berlantai sembilan di kawasan Kedoya,
Jakarta Barat.
Namun, Paloh selalu kembali pada politik. Dia masih kader loyal Partai Golkar.
Menjelang Pemilu 2004, Paloh ikut Konvensi Nasional yang digelar
partai berlambang beringin itu. Konvensi bertujuan memilih dan
menetapkan calon Presiden Republik Indonesia dari Partai Golkar.
Dia bersaing dengan ketua umum Golkar, Akbar Tanjung. Kandidat lain
yang berkompetisi di situ termasuk pensiunan jenderal macam Wiranto dan
Prabowo Subiyanto. Dari kalangan aktivis perempuan ada Marwah Daud
Ibrahim.
Metro TV menyiarkan langsung proses pemungutan suara. Tapi Paloh gagal. Pemenangnya, Wiranto.
HARI berganti hari, bulan berganti bulan, derasnya
arus bantuan ke Aceh dan Nias tak lagi hebat, seiring surutnya air mata
pemirsa. Perhatian orang tercerap ke dalam berbagai berita aktual,
infotainment, reality show, dan siaran lain.
”Pergerakannya tidak begitu signifikan setelah momentum itu hilang,”
kata F. Saiful Bahri, Manajer Promosi Media Indonesia, kepada saya April
lalu.
Dua hari selepas tsunami, Saiful ikut bergabung dalam tim yang dipimpin Paloh ke Aceh dan Nias.
Kondisi Aceh pasca tsunami hancur-hancuran. Setahun setelah tsunami,
meenurut catatan BRR, masih ada sekitar 67.500 pengungsi yang tinggal di
tenda-tenda darurat. Sedikitnya 50 ribu orang masih menempati
barak-barak. Sebagian lainnya menumpang di rumah sanak-saudara.
Aceh dan Nias masih membutuhkan sekitar 120.000 rumah baru. Hingga
Maret tahun ini, yang selesai dibangun baru 30 persen. Sedangkan dari
3.000 kilometer panjang jalan yang rusak, baru 235 kilometer yang
selesai dibenahi. Lima pelabuhan baru dibangun dari total 14 pelabuhan
yang hancur.
Menurut Saiful, kondisi tersebut membuat Paloh berencana mendirikan
sebuah yayasan. Lembaga nonprofit ini bakal bergerak di bidang sosial,
kemanusiaan, dan keagamaan.
Struktur organisasi dibentuk. Paloh duduk sebagai Pembina. Lestari
Moerdijat sebagai Ketua Yayasan. Hasballah M. Saad, tokoh Aceh yang
pernah jadi Menteri Negara Hak Asasi Manusia di era Gus Dur, didaulat
menduduki kursi Penasehat. Posisi Ketua Majelis Pendidikan ditempati
Komaruddin Hidayat. Di Universitas Islam Negeri Jakarta, dia menjabat
Direktur Program Pendidikan Pascasarjana. Hasballah, selain menjadi
penasehat juga bertugas di Bagian Hubungan Eksternal. Ketua Tim
Pelaksana Pendidikan dipegang Ahmad Baedowi.
Jajaran pengurus harian diisi petinggi-petinggi kelompok usaha Media
Group. Firdaus Dayat, Manajer Keuangan Metro TV, misalnya, menduduki
posisi yang sama di yayasan. Liese Budianto, Manajer Pemasaran
perusahaan jasa boga Indocater, memimpin bagian administrasi. Bagian
proyek dipimpin General Manager General Affair Media Group, Mutyadewi
Soebagio. Sedangkan F. Saiful Bahri, Manajer Promosi Media Indonesia,
mengepalai Bagian Promosi dan Hubungan masyarakat.
“Mereka yang direkrut dipilih berdasarkan spesialisasi dan
kompetensi. Umumnya mereka juga pernah terlibat di awal-awal pengumpulan
dan penyaluran bantuan,” ujar Saiful.
Berbeda dengan tenaga profesional yang mendapat gaji, para pengurus
harian bekerja cuma-cuma. ”Karena sudah dapat gaji dari Media Group,”
ujarnya, lagi.
Pada 15 Februari 2005, Paloh bersama Lestari Moerdijat, Ana Widjaya,
Rahmi Lohwur dan Rachmadi Heru mendirikan Yayasan Sukma. Mereka semua
orang Media Group. Stafnya direkrut lewat iklan lowongan yang dimuat
Media Indonesia.
Yayasan ini beralamat di kompleks Metro TV, Kedoya. Tapi kantor
operasionalnya terletak di Jalan RP Soeroso, Gondangdia Lama, di sebelah
gedung Indocater.
AWAL Mei 2005, dana program bantuan “Indonesia
Menangis” senilai Rp 134,028 miliar yang dikumpulkan dari pemirsa
diserahkan kepada Yayasan Sukma. Tapi mestikah dana masyarakat miliaran
rupiah itu diserahkan kepada lembaga baru ini? Mengapa dana tersebut tak
langsung disalurkan pada lembaga-lembaga bantuan yang sudah
berpengalaman dan lebih siap mendistribusikannya, misalnya?
Alasan resmi Yayasan Sukma tertera pada laporan kegiatan kemanusiaan
”Indonesia Menangis Media Group” yang dimuat Media Indonesia pada 4 Mei
2005: ”agar seluruh pengelolaan dana sumbangan masyarakat melalui Dompet
Kemanusiaan Indonesia Menangis dapat berjalan lebih efektif dan
dikelola secara lebih profesional untuk jangka panjang.”Namun tak banyak
penyumbang yang tahu soal rencana dan penyerahan dana “Indonesia
Menangis” ke Yayasan Sukma. Namun, Mutia Safitri dari PT Asuransi Ekspor
Indonesia tak ambil pusing.
“Selama itu positif, kita setuju saja,” ujar Mutia.
Aksi Paloh memindahkan dana publik ke yayasan yang didirikannya itu
dikritik Hamid Abidin. Dia peneliti dan mengepalai program Penguatan
Kapasitas Organisasi Masyarakat Sipil di PIRAC. Bersama timnya, Hamid
pernah melakukan penelitian soal efektivitas penggalangan sumbangan yang
dilakukan media massa pada 2003. Menurutnya, sebelum dana sumbangan itu
dialihkan, rencana itu mesti diumumkan kepada donatur atau publik.
“Secara etika harus declare (diumumkan) dulu kepada donatur. Secara
hukum, donatur bisa menggugat, karena itu dana publik. Di kita
(Indonesia) unik. Ada kesan begitu dana terkumpul bisa diapakan saja,
terserah pengumpul dana. Padahal itu kan dana publik,” ujar Hamid. Kini
Hamid dan tim PIRAC tengah menyusun laporan soal penggalangan dana lewat
media untuk tsunami di Aceh dan Nias.
Protes boleh saja, tapi dana itu sudah mengalir. Yayasan Sukma, dalam
laporan keuangannya, mengklasifikasikan uang miliaran itu sebagai
bagian kontribusi yang tidak dibatasi dalam laporan aktivitas dan
perubahan aktiva bersih. Yayasan ini juga sudah merekrut 38 karyawan
kontrak untuk melancarkan program-program mereka, termasuk lagi-lagi…
melakukan penggalangan dana.
Lebih dari separuh dana dialokasikan Yayasan Sukma ke proyek
pembangunan tiga kompleks sekolah, yaitu di Lhok Seumawe seluas 7,23
hektar, di Pidie seluas 7,5 hektar, dan di Bireuen seluas 7,2 hektar. Di
luar itu, satu kompleks sekolah juga dibangun di Nias, Sumatera Utara.
Untuk tiga kompleks sekolah yang dibangun di Aceh total dana mencapai
Rp 78 miliar. Konstruksinya dilakukan dua kontraktor, PT Adhi Karya dan
PT Hutama Karya. Proyek sekolah di Nias yang menghabiskan dana sebesar
Rp 4,85 miliar dikerjakan PT Waskita Karya.
Sekolah Sukma Bangsa. Begitu nama lengkap sekolah impian itu. Agar
mimpi tersebut jadi kenyataan, yayasan menggandeng Institute for Society
Empowerment atau INSEP sebagai konsultan. Lembaga yang berkantor di
Ciputat, Tangerang, ini diketuai Ahmad Baedowi. Pria ini dari kalangan
dalam. Dia adalah Ketua Tim Pelaksana Pendidikan di Yayasan Sukma.
INSEP dikontrak untuk membuat cetak biru seluruh
kompleks sekolah. Mereka juga diamanatkan untuk menerapkan,
mengembangkan, dan memelihara sistem pendidikan Sekolah Unggulan
Kemanusiaan atau disingkat SUKMA.
Pada 21 Mei lalu INSEP resmi dikontrak 19 bulan. Bayarannya Rp
181.303.122. Dari jumlah itu, biaya persiapan pendidikan menelan dana
sekitar Rp 7,809 miliar. Sisanya untuk biaya manajemen.
Rencananya di setiap kompleks sekolah dibangun fasilitas pendidikan
tingkat dasar hingga tingkat menengah. Masing-masing terdiri dari 12
sekolah dasar, enam sekolah menengah pertama, dan enam sekolah menengah
atas. Kompleks itu juga dilengkapi kantor sekolah, asrama putra dan
putri, lapangan olah raga serta mushola. Fasilitas perpustakaan dan
laboratorium juga dibangun.
Yang menakjubkan, orangtua murid tak perlu mengeluarkan uang sepeser
pun untuk biaya sekolah anak mereka di situ. Gratis!”Seluruh biaya
diambil dari Dana Abadi, yaitu dana yang disisihkan dari sumbangan
masyarakat yang dipercayakan kepada Media Group,” kata Paloh seperti
dilansir Media Indonesia.
Karena dibangun di atas tanah yang disediakan pemerintah setempat,
setelah selesai pembangunannya yayasan akan menyerahkan pengelolaan
sekolah-sekolah itu ke pemerintah setempat dan menjadi sekolah negeri.
Semula proyek ditargetkan selesai akhir 2005, tapi meleset.
Tanda-tanda proyek rampung baru terlihat tahun ini. Di Pidie
gedung-gedung bergenteng merah sudah berdiri megah. Kompleks sekolah
tersebut dikelilingi pagar tinggi. Dari luar tampak bangunan asrama,
lapangan bola, hingga gedung musola berkubah setengah bola. Begitu pula
di pembangunan Bireuen dan di Lhokseumawe.
Bangunan sekolah itu terlihat mewah. Tapi Hamid Abidin dari PIRAC malah menganggapnya mubasir.
“Mestinya kan tanya kepada para korban. Apa iya, orang-orang Aceh
butuh sekolah yang sangat-sangat modern begitu? Jangan-jangan mereka
hanya butuh sekolah yang ukuran standar, sehingga sisa dana miliaran
rupiah itu bisa didistribusikan untuk keperluan yang lain,” katanya.
Sebenarnya bangunan sekolah yang bagus dan fasilitas lengkap justru
membuat proses belajar-mengajar lebih nyaman dan efektif untuk anak-anak
Aceh. Lucu juga pikiran orang ini, pikir saya. Hamid kemudian
mengajukan alasan lain. Dia cemas bias kepentingan muncul di sana.
”Misalnya, dalam teknis penyaluran bantuan jangan sampai yang
menonjol justru tokoh atau medianya. Padahal bantuan yang diberikan itu
kan dana publik. Ini yang harus dibatasi. Kalau tidak, akan menimbulkan
orang curiga.”
Paloh orang politik. Popularitas itu wajib hukumnya di arena politik,
selain berkantong tebal. Tapi sejauh mana Yayasan Sukma menjadi
kendaraan politik Paloh? Saya mengirim email pada F. Saiful Bahri,
Manajer Promosi Media Indonesia merangkap Kepala Bagian Promosi dan
Hubungan Masyarakat Yayasan Sukma, menanyakan soal ini. Saiful sama
sekali tak menjawab pertanyaan saya. Bunyi pesan pendek yang dikirimnya
juga ganjil: “Sudah ada kontak pimpinan Sukma-Pak Baedowi-Pak Hamid
Basyaib.”
Hamid Basyaib? Dulu dia adalah kontributor majalah Pantau. Dia punya
kolom khusus di situ. Dia menulis politik dengan gaya satir dan lucu.
Setelah majalah tutup dan Yayasan Pantau bergerak di bidang pelatihan
jurnalisme serta sindikasi media, Hamid kemudian menjadi penasehat
yayasan ini.
Ketika saya mengungkap pernyataan Saiful padanya, Hamid malah tercengang.
“Ada urusan apa? Tidak pernah ada kontak dengan saya. Saya memang
berteman dengan Baedowi. Tapi hanya secara pribadi. Dan saya tidak
pernah dihubungi soal itu,” katanya kepada saya, dalam sebuah percakapan
telepon.
SEPARUH mimpi Paloh sudah di depan mata. Tapi
bagaimana dengan laporan pengelolaan anggaran miliaran rupiah yang jadi
amanat pemirsa “Indonesia Menangis”?
“Itu ‘kan dana publik, dan filantropi ini ‘kan bisnis kepercayaan.
Yayasan harus mengumumkan laporan keuangannya ke publik,” ujar Hamid
Abidin.
Laiknya organisasi nirlaba lainnya, yayasan memperoleh sumber dana
dari sumbangan. Para penyumbang perlu mengetahui kerja organisasi itu
lewat laporan keuangan. Publik ingin tahu sumbangan mereka digunakan
untuk apa saja.
Dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Nomor 45 soal
pelaporan keuangan organisasi nirlaba yang dirilis Ikatan Akuntan
Indonesia, pengguna laporan akan menilai dua hal dari laporan keuangan
organisasi nirlaba.
Pertama, jasa yang diberikan organisasi dan kemampuannya untuk terus
memberikan jasa. Kedua, menilai cara manajer melaksanakan tanggung
jawabnya dan aspek kinerja manajer.
Saiful setuju soal audit terhadap pengelolaan dana yayasan.
Alasannya, hasilnya akan meningkatkan kepercayaan publik terhadap
yayasan.
”Sebelum yayasan didirikan kami sudah berkonsultasi dengan E&Y.
Karena kami berpikir bahwa dana yang terkumpul ini harus dikelola secara
transparan dan akuntabel,” kata Saiful, seraya memberikan salinan
dokumen hasil auditor independen itu kepada saya.
Ernst & Young (E&Y) merupakan lembaga auditor independen
profesional dunia yang membuka cabang di sejumlah negara. Menurut
sejarah, kantor akuntan publik ini hasil dari serangkaian penggabungan
dari beberapa kantor akuntan. E&Y banyak mengaudit perusahaan
beraset miliaran dolar. Antara lain waralaba McDonald’s, Wal-Mart, 3M,
Oracle, Google, Intel, Hewlett-Packard, hingga raja minuman ringan Coca
Cola.
Di bawah bendera kantor akuntan internasional E&Y, Kantor Akuntan
Publik Prasetio, Sarwoko & Sandjaja mengaudit laporan posisi
keuangan, laporan aktivitas, perubahan aktiva bersih, dan laporan arus
kas sejak Yayasan Sukma berdiri hingga 31 Oktober 2005. Laporan hasil
auditor independen itu dirilis 27 Januari 2006 lalu dan ditandatangani
Ronny Wijata Dharma dengan izin akuntan publik nomor 98.1.0141.
Dalam laporan posisi keuangan tersebut tertulis jumlah aktiva sebesar
Rp 146.670.988.594. Jumlah aktiva lancarnya Rp 95.622.829.746. Dari
dana itu, nilai total kas dan setara yang antara lain dalam bentuk kas,
kas yang disimpan di bank, dan dalam bentuk deposito berjangka sebesar
Rp 90.981.906.556.
Aktiva tak lancar sebesar Rp 51.048.158.848. Senilai Rp
50.206.260.494 berasal dari proyek sekolah yang bakal disumbangkan ke
pemerintah daerah.
Total penerimaan yayasan yang berasal dari pendapatan yang tidak
dibatasi berjumlah 142.566.067.482. Sebesar Rp 138.706.145.734 bersumber
dari kontribusi yang tidak dibatasi.
Di dokumen tersebut tercatat program “Indonesia Menangis” yang
digalang Metro TV menyumbangkan uang sebesar Rp 134.028.565.849.
Penyumbang perusahaan senilai Rp 3.496.959.424, dan penyumbang individu
Rp 1.180.620.461.
Selain dari kontribusi, penerimaan yang diperoleh yayasan bersumber
dari nisbah dan pendapatan bunga setelah dikurangi pajak sejumlah Rp
3.288.031.748. Lalu hasil penghimpunan dana sebesar Rp 571.890.000.
Sedangkan biaya operasi yayasan dibagi dua. Pertama biaya proyek yang
terdiri dari proyek pendidikan dan proyek kemanusiaan dan keagamaan.
Totalnya Rp 5.185.371.194.
Biaya operasi kedua digunakan untuk biaya administrasi senilai Rp
3.193.334.350. Manajemen dan umum menelan biaya Rp 2.754.764.439. Untuk
penghimpunan dana sebesar Rp 433.626.350. Senilai Rp 4.943.561 untuk
biaya lain-lain.
Pada poin biaya operasi untuk biaya administrasi manajemen dan umum
tercatat sebanyak Rp 2.754.764.439. Dari jumlah ini, biaya untuk
komponen gaji sebesar Rp 1.301.997.673. Sehingga total biaya operasi
senilai Rp 8.378.705.544.
Menurut konvensi, maksimal biaya operasional adalah seperlima dari
total bantuan. Semakin kecil, maka organisasi itu dinilai makin baik.
Bila berpedoman pada konvensi itu untuk sementara Sukma tampak “bersih”.
Audit yang dilakukan Kantor Akuntan Publik Prasetio, Sarwoko &
Sandjaja (E&Y) meliputi pemeriksaan, atas dasar pengujian,
bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan
keuangan yayasan. Audit juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi
yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat manajemen serta
penilaian terhadap laporan keuangan secara keseluruhan.
Kantor akuntan ini berpendapat, laporan keuangan yang mereka sebut di
atas menyajikan secara wajar. ”Sesuai dengan prinsip akuntansi yang
berlaku umum di Indonesia,” demikian bunyi kalimat akhir laporan hasil
audit.
Kendati sebagian hasil audit itu sudah dirilis di situs milik
yayasan, hingga Mei lalu tak banyak donatur yang mengakses dan membaca
hasil audit tersebut.
“Apa yang dilakukan Sukma sudah cukup baik. Tapi hasil audit itu juga
harus diumumkan kepada tiap donatur. Itu kalau mereka benar-benar mau
menjadi lembaga filantropi yang serius tidak hanya fokus di Aceh.
Sehingga publik juga bisa menilai dan dapat mengikat loyalitas donatur,”
ujar Hamid.
Donatur pun banyak yang tak tahu prosedur ini. Mereka datang dari
macam-macam kalangan, mulai dari anak sekolah, ibu rumah tangga, pegawai
bank, pengusaha sampai perusahaan-perusahaan besar. Warga biasa yang
spontan menyumbang umumnya tak memikirkan lagi nasib sumbangan mereka.
Yang penting sudah disalurkan ke pihak korban.
“Niatnya, ya ikhlas saja,” kata Mutia Safitri.
NEGERI kincir angin, Nederland, punya dam yang berfungsi mengontrol gelombang pasang air laut. Di negeri
malang yang sohor karena korupsi, auditor bisa jadi sebuah alat menangkal kebocoran atas gelombang aliran uang bantuan.
Dalam tempo kurang setahun, Yayasan Sukma yang dibina Paloh berhasil
mengendalikan uang bantuan. Popularitas Paloh juga terdongkrak. Tapi
jangan lupa bahwa dia politisi. Bencana alam tak bisa dibuat, tapi bisa
bermanfaat.
*)
Dipublikasikan di sindikasi Aceh Feature Service.
Sumber: samiaji bintang