Jumat, 23 Desember 2011

Suaro hati - Wiranto Masih Malu-malu Ajukan Diri Jadi Capres 2014

Didi Syafirdi - detikNews Selasa, 20/12/2011 14:19 WIB Jakarta - Sejumlah partai sudah berani mengajukan jagoannya untuk bertarung dalam Pilpres 2014. Namun tidak bagi Ketua Umum Partai Hanura Wiranto yang masih 'melihat kanan kiri' untuk mengajukan diri. "Memang ada yang meminta agar saya dicalonkan kembali sebagai capres. Tapi kita lihat perkembangan di raker ini," ujar Wiranto sebelum pembukaan acara rakernas I Partai Hanura di Hotel Sahid, Jl Sudirman, Jakarta, Selasa (20/12/2011). Meski demikian Wiranto mengaku siap saja jika dirinya benar-benar diinginkan oleh kader Hanura untuk bertarung dalam Pilpres 2014 mendatang. Mantan Panglima TNI ini juga siap jika dirinya kalah bertarung. "Saya sebagai pejuang jadi apa saja siap. Tidak jadi apa-apa juga siap. Saya berjuang sesuai bidang yang saya geluti, tidak peduli jadi apa. Yang terpenting perjuangan harus dilanjutkan," kata Wiranto. Menurut Wiranto, pihaknya masih mendengarkan masukan dari daerah-daerah. Mereka juga juga masih mencari tokoh yang 'menjual'. "Kita masih mendengarkan masukan-masukan dari daerah, kita tampung. Mereka memerlukan ikon atau tokoh yang menjual," kata Wiranto. Wiranto menjelaskan, Hanura sudah berubah. Kadernya kini mayoritas merupakan kader muda. "Memang Hanura dikenal sebagai partai orang tua tapi sekarang 56 persen kadernya muda. Lihat saja nanti," tutur wiranto. Sebelum acara rakernas dimulai, sekitar 50 orang dari Gerakan Muda Hati Nurani Rakyat (Gema Hanura) membawa poster bertuliskan Wiranto For President. Mereka masuk ke ruang Rakernas sambil meneriakkan 'Wiranto For President'. (nik/nrl)

Suaro hati - Nazaruddin Beberkan Kasus Lain

Kamis, 22 December 2011 Tersangka suap dalam pembangunan wisma atlet di Palembang, Muhammad Nazaruddin mengaku tak hanya menjelaskan proyek sport center di Hambalang ke penyidik KPK. Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat itu juga menuturkan sejumlah kasus lain yang proyeknya dilaksanakan oleh PT Adhi Karya. "Ada beberapa poin yang ditanyakan (penyidik) lagi, contohnya seperti pembangunan proyek gedung pajak. Itu kan dulu yang menang Adhi Karya. Terus saya jelaskan juga tentang proyek listrik yang di Kalimantan Timur yang menang Adhi Karya. Terus yang ditanya lagi tentang pembangunan listrik di Riau yang menang Rekin (Rekayasa Industri)," tutur Nazar usai diperiksa KPK, Kamis (22/12). Nazar pun menyerahkan sepenuhnya penanganan seluruh kasus yang ia ketahui kepada KPK. Ia mengklaim sudah menceritakan seluruhnya ke penyidik. "Jadi semuanya tinggal kembali ke KPK. Semua sudah saya jelaskan termasuk keterlibatan Andi Saptinus proyek E-KTP," tambahnya. Sebelumnya, Pimpinan KPK sempat mengungkapkan bahwa Nazaruddin diduga terlibat dalam banyak kasus yang sedang didalami oleh KPK. Beberapa kasus diantaranya sudah naik ke penyelidikan dan ada juga yang sudah naik ke penyidikan. Untuk diketahui, kasus yang sudah naik ke penyelidikan diantaranya adalah kasus dugaan korupsi pembangunan sport center Hambalang, Jawa barat dengan nilai total proyek Rp 1,1 triliun. Kemudian, kasus dugaan korupsi pengadaan alat bantu laboratorium di lima universitas, yaitu Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universitas Sriwijaya (Unsri), Palembang, Universitas Jendral Soedirman (Unsoed), Purwokerto, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang, Banten, dan Universitas Malang. Di mana, salah satu kasusnya telah naik ke tingkat penyidikan. Untuk kasus ini, pimpinan KPK jilid II telah mengungkapkan telah menetapkan tersangka baru tapi hingga kini belum juga diumumkan.

Selasa, 20 Desember 2011

Suaro hati - 150 Jenderal deklarasikan revolusi

Tanggal : 20 Dec 2011 Sumber : Harian Terbit JAKARTA - Ratusan purnawirawan jenderal dan perwira menengah TNI kembali menyatukan barisan untuk 'menjatuhkan' atau melengserkan kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Alasannya, para jenderal itu, pemerintahan SBY tidak bisa lagi diharapkan mensejahterakan rakyat, menegakkan hukum, memberantas korupsi, dan persoalan bangsa lainnya. Informasi yang diterima Harian Terbit, sekitar 150 purnawirawan TNI berkumpul di Jakarta, dan hadir dalam pertemuan ini antara lain Jenderal (Purn) Tyasno Sudarto, Mustahid Astari, Tommy (PETA). Ketiganya mengatasnamakan dari Gerakan Revolusi Nurani (GRN). Dalam pertemuan itu dikeluarkan pernyataan Tri Komando Nurani: Turunkan SBY dengan mobilisasi umum, Bentuk Dewan Revolusi Rakyat, dan Kembali ke UUD 1945 asli. "Sebanyak 150 purnawirawan itu sudah sepakat untuk melengserkan pemerintahan SBY dengan mobilisasi umum," kata Indro Tjahyono yang dikenal dekat dengan sejumlah jenderal purnawirawan kepada Harian Terbit, Selasa pagi (20/12). Menurutnya, pertemuan 150 purnawirawan TNI itu disambut 20 jenderal lainnya, termasuk Jenderal (Purn) Prabowo Subianto dengan membuat aksi keprihatinan bangsa pada pertengahan Desember ini. "Prabowo dkk menyatakan aksi keprihatinan terhadap kondisi bangsa saat ini, dan hal ini sah-sah saja. Tapi, kalau 150 purnawirawan itu sudah clear, artinya menjatuhkan SBY secara inkonstitusional," ujar Indro. Menurut Ketua DPP Hanura, partai yang didirikan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Wiranto ini, para purnawirawan itu juga menyatakan optimis pemerintahan SBY tidak akan sampai 2014. "Itulah sebabnya mereka terus melakukan penggalangan kepada rakyat untuk mengkritisi pemerintahan SBY, yang pada akhirnya melakukan aksi penggulingan," ujar Indro. Sementara itu, mantan Asisten Teritorial Kepala Staf Angkatan Darat, Mayor Jenderal Purnawirawan Saurip Kadi sangat mendukung langkah para Jenderal senior Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) yang akan berkumpul di Bandung, Jawa Barat pada perengahan bulan Desember nanti. "Saya sangat mendu-kung langakah para Jenderal senior SBY tersebut. Kalau bukan senior, siapa lagi yang akan mengingatkan SBY," kata Saurip Kadi dalam perbincangannya dengan Teraspolitik.com melalui telepon selularnya, Jum'at (25/11). Kecewa Diinformasikan, selain Tyasno dkk dari GRN, dari kelompok jenderal lain, sekitar 19 orang, juga kerap berkumpul di rumah Jenderal (Purn) Luhut B Panjaitan, Jenderal (Purn) Jhony Lumintang, Jenderal (Purn) Fahrur Rozi, dan lainnya. "Mereka sering berkumpul di rumah Jenderal (Purn) Luhut Binsar Panjaitan yang juga mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Kabinet Reformasi masa Presiden Abdurrahman Wahid," kata Ketua MK Mahfud MD, beberapa waktu lalu. Menurutnya, para jenderal itu menyatakan kecewa dengan pemerintah. "Beberapa mantan jenderal yang sering bertemu di rumah Luhut Panjaitan antara lain, Letnan Jenderal purnawirawan Jhony Lumintang, Jenderal purnawirawan Fahrur Rozi, Letjen (Purn) Agus Wijoyo, Jenderal (Purn) AM Hendropriyono, dan Letjen (Purn) Kiki Syahnakri. "Setidaknya ada sekitar 19 para purnawirawan jenderal yang kerap bertemu di kediaman Luhut Panjaitan. Mereka mengatakan, pemerintahan ini mengecewakan. Pemerintahan ini lambat," ujar Mahfud, yang juga mantan Menteri Pertahanan. Hal senada juga dikemukakan mantan Wakil Panglima TNI, Jenderal TNI (Purn) Fachrul Razi, menurutnya, para mantan jenderal sering melakukan pertemuan. "Para jenderal itu hampir setiap hari berkumpul dan bertemu, karena mereka berkantor di gedung yang sa-ma, di Kuningan, Jakarta," ujar Fahrul. (ali)

Rabu, 14 Desember 2011

Suaro hati - How to Make your Readers Sit Up and Take Notice

                            

By Mary Jaksch, Chief Editor of Write to Done

Let’s say you want to write about a dry subject like how to use backlinking for SEO (Search Engine Optimization).
How can you make readers sit up, take notice – and entertain them at the same time?
Here’s a challenge for you …
Imagine writing an intro which weaves together the following topics: ancient civilizations, India, the jungle, mysterious temples, tigers, dark passages, snakes hanging from the ceiling, forgotten gods, altar carvings that reveal hidden secrets – and SEO.
It’s impossible, right?
Andy Fletcher managed to do just that in the intro to his report Backlink Leverage.
Here’s how he crafted his intro:
You’ve probably read the sales letters that have some … interesting stories to tell.
How the guy writing was on a holiday in India, how they were exploring the jungle, and how they came across this mysterious temple…
It was overgrown with vines. There was a tiger lounging by the door, they had to sneak past.
They crept through dark passages, wondering if every brush along their back was just a vine hanging from the ceiling or a poisonous snake.
And then they found it. The altar of some ancient, long-for gotten god. And carved into that altar they found a secret. The secret that has allowed them to exploit Google and made them rich …

Well, ain’t that just remarkable. A lost civilization that thousands up on thousands of archeologists have yet to discover, despite it being in a far more obvious state than all the other ones that are, y’know, buried…
And not only that, but this civilization was coming up with hot SEO techniques before there was an SE to O.
I’m sure impressed.
Or I would be, if it wasn’t so utterly ridiculous
I was thoroughly entertained by this introduction and it made me read more. What’s your reaction?
Have you written a creative intro that keeps readers glued to the page? If so, please share it in the comments.
Mary Jaksch is Chief Editor of Write to Done and co-creator of the A-List Blogging Bootcamps and the A-List Blogger Club. Enjoy more of Mary’s writing at Goodlife ZEN and in our free WDT book, The (nearly) Ultimate Guide to Better Writing! Just enter your name and email in the form at the top of the sidebar for immediate download.
                  

Selasa, 13 Desember 2011

Suaro hati - Nunun Bisa Jawab Pertanyaan KPK

TEMPO Interaktif, Jakarta:- Setiba dari Bangkok, Thailand, pada Sabtu lalu, Nunun Nurbaetie langsung diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi. Ina Rachman, pengacara Nunun, mengatakan kliennya bisa menjawab sebagian pertanyaan yang diajukan penyidik KPK. "Ibu (Nunun) tidak hanya diam selama diperiksa KPK. Dia menjawab apa yang diingatnya," kata Ina kemarin.

Bahkan, Ina melanjutkan, pemeriksaan selama dua setengah jam terhadap istri mantan Wakil Kepala Polri Adang Daradjatun itu sudah memasuki materi kasus dugaan suap cek pelawat. Misalnya saja, menurut Ina, KPK menanyakan tentang anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang sudah ditahan dalam kasus yang sama. "Ya, dijawab seingatnya," katanya.

Menurut Ina, pemeriksaan di KPK pada Sabtu malam itu berlangsung dalam suasana rileks. Rencananya, Nunun dijadwalkan kembali diperiksa pada Senin siang ini.

Nunun diduga punya peran penting dalam pusaran kasus suap cek pelawat yang diduga berkaitan dengan pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda S. Goeltom. Tersangka dituding berperan menyebarkan 480 lembar cek pelawat senilai Rp 24 miliar seusai pemilihan yang dimenangi Miranda itu.

Peran Nunun sebenarnya terungkap dari keterangan Ahmad Hakim Safari M.J. alias Arie Malangjudo, rekan kongsi Nunun di PT Wahana Esa Sejati, perusahaan bidang perkebunan sawit. Dalam keterangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi dan dokumen yang dimiliki Tempo, Arie mengaku dikenalkan kepada Hamka Yandhu, anggota Komisi Keuangan DPR dari Fraksi Golkar, di ruang kerjanya.
Ketika itu Nunun meminta Arie menjadi kurir untuk menyampaikan "tanda terima kasih" kepada Hamka dan kawan-kawannya. "Tanda terima kasih" itu terbungkus dalam kantong berwarna merah, putih, hijau, dan kuning.

Indonesia Corruption Watch, pegiat antikorupsi, menilai KPK perlu menciptakan suasana kondusif dalam memeriksa Nunun. Tujuannya agar Nunun kooperatif, dan dalang di balik suap terhadap anggota DPR terbongkar. Apalagi hingga kini Miranda Goeltom juga belum jadi tersangka. "KPK harus mengungkap pemberi cek pelawat sesungguhnya," ujar anggota Badan Pekerja ICW, Emerson Yuntho, kemarin.

Emerson juga menyarankan KPK untuk melakukan tawar-menawar dengan Nunun. Salah satunya menawarkan hukuman yang tidak terlalu tinggi bagi Nunun jika ia bersedia buka-bukaan soal kasusnya.

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua KPK Mochammad Jasin menyatakan sebaiknya menunggu perkembangan penyidikan. Namun dia memastikan KPK serius mengusut kasus tersebut

Suaro hati - Susilo Bambang Yudhoyono Marah