Senin, 09 Januari 2012

Suaro Hati - Petani Mesuji Protes ke DPR RI


"Kami kecewa dengan Komnas HAM yang membuat tim gabungan dengan Polri."

 Senin, 9 Januari 2012, 16:24 WIB

VIVAnews - Sejumlah tokoh dari serikat petani, nelayan, pemuda dan buruh yang tergabung dalam Sekretariat Bersama mendatangi Dewan Perwakilan Rakyat RI, Senin, 9 Januari 2012. Mereka mengajukan sejumlah rekomendasi agar pemerintah dan DPR menghentikan kekerasan yang terjadi di Mesuji. Selain itu, mereka meminta agar seluruh warga yang ditahan dibebaskan.

Pemerintah juga diminta memfasilitasi penyelesaian konflik agraria serta menarik unsur-unsur yang memicu kekerasan, seperti polisi, TNI serta pasukan keamanan swakarsa. Selain itu, pemerintah juga diminta segera menjalankan program pembaruan agraria dan membentuk kepanitiaan konflik agraria.

Ketua Eksekutif Indonesia Human Rights Commite for Social Justice (IHCS), Gunawan, juga mengatakan bahwa dirinya kecewa dengan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia karena telah membuat tim gabungan dengan Polri untuk menginvestigasi kasus ini.

"Kami kecewa dengan Komnas HAM yang membuat tim gabungan dengan Polri. Ini sama saja melakukan investigasi ulang," kata dia.

Tim investigasi, menurut Gunawan, seharusnya tidak hanya terdiri dari Komnas HAM dan kepolisian saja, tapi juga dari berbagai kalangan yang terkait, termasuk unsur masyarakat.

Selain itu, Sugih Santoso dari Parade Nusantara mengatakan bahwa 78 persen warga Indonesia bertempat tinggal di desa. Tapi, peraturan tentang desa justru belum ada. Sementara itu, aturan Pemerintah Desa No. 32 Tahun 2004 tak khusus mengatur tentang desa.

"Harus ada UU Desa, dengan adanya aturan ini, konflik masalah agraria atau tanah adat sesungguhnya bisa selesai," kata Sugih.

Sementara itu, Anggota Komisi II dari Fraksi PDIP Budiman Sudjatmiko mengatakan akan mempelopori pendirian pansus agraria. Selain itu, juga akan mendata dan memanggil pejabat serta pengusaha terkait.

"Saya dengan Nur Suhud akan mempelopori pendirian pansus agraria. Mendata memanggil pejabat, pengusaha konflik agraria," kata dia.

Abdul Malik dari Fraksi PKB juga mengatakan akar persoalan di Mesuji dan Bima adalah dari kebijakan pemerintah. "Saya mendukung pansus. Kami ingin melihat, mengkaji dan menganalisis kebijakan. Ini cenderung berpihak ke pemodal," kata dia. (kd)
• VIVAnews

Suaro Hati - DPR segera gelar RDP soal Esemka


 Minggu, 8 Januari 2012
Pekanbaru (ANTARA News) - Wakil Ketua Komisi VI DPR RI yang membidangi perindustrian, perdagangan, dan BUMN, Aria Bima, mengatakan Komisi VI segera menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan pemangku kepentingan terkait mobil nasional.

"Dalam kesempatan pertama, komisi kami mengagendakan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan seluruh `stake-holder` yang terkait dengan program mobil nasional (Mobnas), khususnya menyangkut produk `Esemka`," katanya kepada ANTARA Riau, melalui jejaring komunikasi, Minggu.

Ia menambahkan, RDP itu diadakan untuk mendukung percepatan realisasi program Mobnas, sekaligus menindaklanjuti fenomena mobil `Esemka` yang menyedot perhatian publik sekarang ini.

"Fenomena heboh mobil `Esemka` menunjukkan besarnya kerinduan rakyat akan pentingnya mobil nasional sebagai salah satu kebanggaan nasional," kata Aria Bima.

RDP Komisi VI DPR RI, menurutnya, antara lain akan memanggil Deputi Bidang Industri Strategis dan Manufaktur Kementerian BUMN, dan Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian.

Selain itu, lanjutnya, diundang pula pelaku industri otomotif nasional, PT Industri Kereta Api (INKA), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Gubernur Sulawesi Selatan Syahril Yasin Limpo, Walikota Solo Joko Widodo, dan akademisi.

Aria Bima menjelaskan, hasil RDP akan menjadi bahan rapat kerja Komisi VI DPR RI dengan Pemerintah.

"Dari rapat kerja dengan pemerintah ini diharapkan muncul keputusan politik yang bisa mempercepat realisasi program mobil nasional yang kita dambakan bersama," ujarnya.
(M036/A014)

Editor: Desy Saputra

Suaro Hati - Pong Harjatmo Bawa Korek Kuping Jumbo ke DPR


Susi Fatimah - Okezone
Senin, 9 Januari 2012
JAKARTA - Politikus Partai Gerindra Permadi dan artis Pong Harjatmo menengok para demonstran yang melakukan aksi jahit mulut di depan gedung DPR RI Senayan, Jakarta siang tadi.

Pong yang sengaja hadir dengan membawa kacamata dan korek kuping tambang tersebut mengatakan tujuannya membawa kedua benda tersebut agar pemerintah dan DPR mau mendengarkan keluhan rakyatnya yang sudah hampir satu bulan menuntut keadilan.

"Saya bawa kacamata dan korek kuping tambang biar pemerintah, DPR mendengarkan keluhan rakyat. Biar dengar dan kupingnya bersih," ujar Pong di depan gedung DPR Senayan Jakarta, Senin (9/1/2012).

Sebelumnya, aksi jahit mulut dilakukan delapan orang sejak Senin 19 Desember lalu di depan pintu gerbang Gedung DPR. Aksi yang semula akan diikuti oleh 100 relawan tersebut, hanya diikuti oleh 73 orang. Hal itu lantaran puluhan orang lainnya tidak lolos tes medis karena kondisi tidak memungkinkan.

Kata Pong begitu banyak ketidakadilan dinegeri ini. Dia mencontohkan kasus Century yang menelan angka milyaran rupiah justru mandek ditengah jalan. Begitu juga penembakan gelap di Aceh, Papua dan sebagainya.

Sementara sekumpulan orang dari daerah yang menuntut lahannya hingga kini tak jelas nasibnya. Hal itu sama ironisnya dengan nasib yang menimpa bocah 15 tahun asal Palu, Sulawesi Tengah yang didakwa 15 tahun penjara karena diduga mencuri sandal jepit milik anggota kepolisian setempat. Pong meminta pemerintah dan DPR untuk peduli terhadap nasib rakyat.

Sementara Permadi mengatakan, pemerintah dan DPR tidak memberikan perlindungan kepada rakyatnya yang tengah menuntut keadilan. "DPR sama seperti cukong kalau enggak ada duitnya enggak akan jalan (bantu para demonstran). Kalau ada yang mati itu pasti akan memicu hal yang lebih besar," tuturnya.

(ful)

Suaro Hati - Demokrat Sewot Ipar SBY Jadi Mainan Politik Golkar


Ferdinan - Okezone 
Senin, 9 Januari 2012
JAKARTA - Partai Demokrat berang perkara Bank Century terus dijadikan isu politik oleh sejumlah parpol termasuk Partai Golkar. Apalagi kini politikus Golkar di DPR kerap bersuara lantang meminta pengusutan nama Hartanto Edhie Wibowo (HEW) yang masuk ke dalam hasil audit forensik Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait perkata Century.

Menurut Wakil Ketua Fraksi Demokrat di DPR, Sutan Bhatoegana, HEW merupakan nasabah biasa di Bank Century. Transaksi penukaran valas yang dilakukan HEW dan istrinya Satya Kumala Sari (SKS) menurut Sutan tidak bermasalah.

"Itu nasabah biasa bayangkan saja yang diributkan Rp6,7 triliun. Kawan itu (HEW) menukarkan duit sekitar 200-300 ribu USD. Bandingkan enggak ada apa-apanya (dari total dana talangan Rp6,7 triliun), tapi dicari terus ini barang," ujar Bhatoegana di Gedung DPR, Jakarta, Senin (9/1/2012).

Dalam dokumen laporan hasil audit investigasi lanjutan Century, BPK memaparkan transaksi penukaran valas dan hasil penukaran kas valas atas nama HEW dan SKS. HEW bersama istrinya SKS merupakan nasabah Bank Century. BPK menemukan adanya penyetoran tunai oleh SKS yang dilakukan di Bank Century cabang Pondok Indah ke rekening Hartanto pada tanggal 25 Januari 2007 sebesar Rp453juta, tanggal 30 Juli 2007 Rp368juta dan tanggal 22 November 2007 Rp 469juta.

Dari aplikasi setoran, diketahui bahwa dana yang disetor tersebut berasal dari penukaran valas ke dalam rupiah di Bank Century cabang Pondok Indah. Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa dalam buku catatan mengenai kas valas di Bank Century tidak ditemukan adanya transaksi penukaran kas valas.

Namun BPK menyebut belum menemukan sumber dana valas yang ditukarkan dan belum dapat menyimpulkan hubungan transaksi ini dengan kasus Bank Century.

Sutan menegaskan partainya tetap menghormati proses hukum bila ditemukan tindak pidana dalam kasus Century. Namun Demokrat berharap parpol tidak terus merongrong stabilitas pemerintahan dengan melancarkan isu negatif.

"Terakhir di audit forensik untuk melihat aliran dana yang meragukan itu, tetap enggak ada yang masuk ke Demokrat. Kemudian mereka(sejumlah politikus DPR) cari yang lain sampai ada yang namanya yang dekat dengan orang istana. Yang tadinya ada nama dia (HEW) sebagai nasabah sekarang dipermasalahkan ada aliran dana cuma Rp3 miliar. Tapi ini digoyang terus," kesalnya.
 

Suaro Hati - Demokrat Tetap Yakin Kepada Anas


Oleh: Ajat M Fajar
Nasional - Senin, 9 Januari 2012 

INILAH.COM, Jakarta – Serangan bertubi-tubi terhadap Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum belakangan ini tidak menyurutkan niat Partai Demokrat untuk mengusung Anas untuk bertarung pada Pilpres 2014.
Menurut Ketua DPP Partai Demokrat Sutan Bhatoegana Partai Demokrat masih yakin untuk memajukkan Anas dalam Pilpres 2014. "Insya Allah. Kita kan bilang tahun ini tahun kerja, tahun 2013 tahun politik dan tahun 2014 tahun pertarungan, ya tunggu saja nanti itu," ujar Sutan, Senin (9/1/2012).

Sutan mengakui sebelum kasus korupsi oleh mantan bendahara umum Demokrat M Nazaruddin mencuat, Anas dinilai sosok yang potensial untuk dimajukan sebagai Capres di 2014. Namun demikian di tengah perjalanan, kasus korupsi Nazaruddin yang dikait-kaitkan dengan Anas, sedikit demi sedikit mempengaruhi pontensi tersebut.

"Saya kira Pak Anas masih di dalam posisi yang baik-baik saja, tinggal bagaimana melawan isu vs isu, opini vs opini, tapi percayalah, akhirnya yang menang nantinya kebenaran juga," ungkapnya.

Lebih lanjut, Wakil Ketua Fraksi Partai Demokrat ini menambahkan, saat ini seluruh elite partai sedang berjuang untuk memperbaiki citra pasca kasus korupsi Nazaruddin. Karena tak bisa dipungkiri jika kasus tersebut cukup berdampak kepada Partai Demokrat, bahkan kasus itu berdampak kepada SBY.

"Untuk kembali memulihkan itu semua yaitu kerja keras dan berani membuktikan yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Tetap konsisten di dalam penegakan hukum untuk berantas korupsi demi kesejahteraan rakyat yang adil." [tjs]

Minggu, 08 Januari 2012

Suaro Hati - Nyokk... Kita Intip Pabrik Esemka di Solo

Mobil rakitan anak bangsa Esemka sudah menjadi buah bibir. detikOto pun berkesempatan melihat mobil ini diproduksi di Solo Techno Park, Jalan Ki Hajar Dewantara Solo.