Senin, 19 Maret 2012

Lima Presiden Beramai-ramai Jual Negara ?

Ibnu Dawam Aziz

Perjalanan Republik ini telah menuju 66 th. Nanti pada tanggal 17 Agustus 2011. Tapi apakah yang telah diperoleh ? Kekayaan Negeri ini telah habis terkuras, kemerdekaan pun telah terampas. Kemerdekaan yang telah kita raih pada tanggal 17 Agustus 45 nyaris telah tergadai kembali sejak tahun 1965 yaitu sejak Naiknya Soeharto ke tampuk pimpinan membuat Freeport Sulphur Company bernapas lega. ketika UU no 1/1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA) yang draftnya dirancang di Jenewa-Swiss, dan didektekan oleh Rockefeller, disahkan tahun 1967, maka perusahaan asing pertama yang kontraknya ditandatangani Suharto adalah Freeport Sulphur Company! ) * Inilah kali pertama Indoesia kembali masuk keperangkap penjajahan gaya baru. Bantuan AS lewat CIA untuk merebut kekuasaan dari tangan Sukarno untuk mencanangkan tonggak Orde Baru dibayar sangat mahal. Tahap-tahap pembangunan awal yang sangat berat memaksa Indonesia harus menyandarkan kemampuannya pada bantuan Dunia : Sejak dari IGGI, IMF, ADB sampai Bank Dunia .
1296216331990351620
Mengguncang ekonomi Indonesia
1296216040797332708
Privatisasi- Pasar Bebas-Neo Lib?
Apakah bantuan- bantuan itu tidak mengikat ? Pasti tidak ! Semua bantuan yang disalurkan , pasti mengandung tuntutan imbal balik yang pada umumnya merugikan Indonesia. Globalisasi ekonomi yang dimotori oleh Ronald Reagan dan Margaret Thatcher semakin mendorong Indonesia pada ketergantungan yang berdampak jangka panjang. Neo Liberal yang merancang pasar global, mensaratkan tidak adanya peranan pemerintah dalam perekonomian. Privatisasipun menjadi persaratan utama ADB dan Bank Dunia yang menjadi kepanjangan tangan Inggris dan Amerika Serikat.
Bagaimana dengan Indonesia ? Kepala batu Soeharto yang tetap mengembangkan BUMN , rupanya membuat gerah AS. Senjata pamungkas diluncurkan, mata uang rupiah yang disimpan George Sorros sekaligus dilepas, rupiah kalang kabut, Krisis Moneter menumbangkan ekonomi Indonesia .
Terpaksa Privatisasi dilaksanakan untuk memulihkan Indonesia dari Krisis, diserahkan pada ahlinya Prof.Dr. Boediono M.Ec. Indonesia memang perlahan bangkit dari Krismon tapi : Sejak dari TelkomCell, Indosat, Semen Gresik , blok Cepu semua lepas. Presiden Berganti dari jaman Soeharto, Habibie, Megawati dan SBY hanya di jaman Gus Dur Peran Boediono agak berbeda. Bahkan kontrak ulang Megawati dengan Freeport th. 91 menghilangkan harapan Negeri ini untuk masih mendapat sisanya diakhir kontrak nanti pada th. 2041.
Pemimpin-pemimpin yang mengaku nasionalis, tapi ternyata sama sekali tidak menghargai nilai dan arti kebangsaan. Untuk tunduk pada kekuatan asing, hanya sekedar untuk mendapat pinjaman tega mengkhianati UUD Negerinya sendiri.
Pasal 33 UUD 45 yang sudah diamandemen dengan tegas mengatakan :
(1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.
(2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
(3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
(4) Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang.
Mana kebijakan Privatisasi yang tidak melanggar UUD ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar